1 Seleksi (penggolongan) Benih
Penggolongan benih dapat dilakukan dengan menggunakan ayakan atau berbagai peralatan mesin sederhana. Penggolongan tersebut dilaksanakan berdasarkan pada sifat-sifat morfologi benih atau fisiologi benih seperti dimensi benih atau berat jenis benih. Pemisahan benih berdasarkan warna melalui komputer merupakan penemuan baru. Cara-cara Pre-Vac dan IDS yang populer khususnya untuk jenis tanaman berdaun jarum. Pertama, memisahkan benih yang rusak karena mesin dari benih yang tidak rusak dengan memanfaatkan perbedaan tingkat penyerapan (uptake) air. Kedua, Pemisahan melalui inkubasi pengeringan (Incubation-Drying-Separation), yaitu memisahkan benih yang mati dengan memanfaatkan perbedaan tingkat pengeringan benih (Anonim, 2009).
Pada Pseudotsuga menziesii terdapat perbedaan yang besar dalam berat rata-rata benih diantara 18 famili pohon (families); pengaruh dari pohon induk tidak dapat dipisahkan dari lingkungan setempat. Hal ini menunjukkan adanya suatu pengaruh lingkungan yang kuat dengan mengenyampingkan pengaruh induk. Benih setiap pohon dari 18 famili pohon tersebut digolong-golongkan. Pada waktu pecahan yang paling kecil dibuang maka hampir 90% dari pohon (families) itu terpengaruh. Tiga diantaranya kehilangan 50% benih dan yang tiga lainnya kehilangan lebih dari 90%. Yang paling penting , dua dari pohon-pohon tersebut yang paling rusak juga termasuk lima besar untuk ketinggian keturunan yang berumur 10 tahun (for 10-year progeny height) di lapangan. Hubungan antara ukuran benih dengan ketinggian keturunan yang berumur 10 tahun (10-year progeny height) atau diameter rendah, 0-0.1. Penggolongan pada populasi benih (seed lot) tersebut akan mengalami akibat yang serius untuk mutu genetik.
Chaisurishi dan kawan-kawan (1992) menemukan klon Picea sitchesis sebagai hasil pengklonan (cloning) ukuran benih, dengan kemampuan untuk diturunkan hanya 0.4. Di lain pihak mereka menemukan bahwa famili benih berbeda kebutuhannya untuk tindakan perlakuan awal (pre-treatment) yang menunjukkan perbedaan klon (clonal) dalam dormansi benih. Suatu pengaruh induk yang kuat terhadap sifat benih.
Kemungkinannya untuk membuang seluruh famili pohon selama penggolongan tidak berarti bahwa penggolongan itu tidak perlu dilakukan. Penggolongan harus dilakukan berdasarkan keluarga. Tidak adanya penggolongan tidak menjamin bahwa perubahan tidak akan terjadi di hari kemudian. Misalnya, sebuah biji kecil menghasilkan semai/anakan yang kecil. Embryo pinus Skotlandia (Pinus sylvestris) yang berasal dari benih yang berat ternyata lebih heterozygous dari pada embrio dari benih yang ringan dan bahkan memiliki sedikit kelebihan heterozygote. Sementara benih yang ringan memiliki kelebihan homozygote. Menghilangkan homozygote dari populasi benih (seed lots) tersebut akan dapat memperbaiki keadaan benih dan meningkatkan keragaman.
2 Seleksi Bibit
Bibit-bibit yang dihasilkan dari teknik-teknik perbanyakan generatif dan generatif memilki sifat-sifat yang berbeda. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan pemilihan tanaman adalah pertumbuhan batang, cabang dan daunnya. Selain itu perlu diperhatikan juga penampakan luarnya, seperti adanya gejala serangan hama dan penyakit, bentuk batang dan cabang serta tinggi pohon yang sesuai dengan umurnya (Setiyawan, 1993).
Sementara itu, menurut Irwanto (2007) kegiatan seleksi bibit merupakan kegiatan yang dilakukan sebelum bibit dimutasikan kelapangan, maksudnya yaitu mengelompokan bibit yang baik dari bibit yang kurang baik pertumbuhannya. Bibit yang baik merupakan prioritas pertama yang bisa dimutasikan kelapangan untuk ditanam sedangkan bibit yang kurang baik pertumbuhannya dilakukan pemeliharaan yang lebih intensif guna memacu pertumbuhan bibit sehingga diharapkan pada saat waktu tanam tiba kondisi bibit mempunyai kualitas yang merata.
3 Peranan bioteknologi tanaman dalam seleksi bibit
Untuk mengatasi masalah dalam seleksi bibit unggul pada tanaman yang sukar diperbanyak secara vegetatif (cangkok, stek, okulasi), khususnya dalam masalah kandungan fenolat yang tinggi, tanaman diperbanyak terlebih dahulu melalui teknik embriogenesis sebagai salah satu usaha dalam bioteknologi. Selanjutnya tanaman yang dihasilkan dengan proses ini akan diseleksi di lapangan untuk tujuan pemuliaan.
Embriogenesis dimulai dengan pembelahan gel yang tidak seimbang (kalus). Kalus biasanya terbentuk setelah eksplan dikulturkan dalam media yang mengandung auksin. Banyak faktor yang mempengaruhi embriogenesis antara lain auksin eksogen, sumber eksplan, komposisi nitrogen yang ditambahkan dalam media dan karbohidrat (sukrosa). Selanjutnya gel membelah terus hingga memasuki tahap globular. Pada saat tersebut sel aktif membelah kesegala arah dan membentuk lapisan terluar yang akan menjadi protoderm (bakal epidermis), kelompok sel yang merupakan prekursor jaringan dasar dan jaringan pembuluhpun mulai terbentuk. Pembelahan kesegala arah tersebut terhenti ketika pembentukan primordia kotiledon, pada saat embrio matang sudah autotrof. Embrio yang matang akan berkecambah dan tumbuh menjadi tumbuhan yang baru pada kondisi yang cocok (Bajaj, 1994). Proses pembentukan dan perkembangan embrio (embriogenesis) menentukan pola pertumbuhan, yaitu meristem pucuk ke atas, meristem akar ke bawah, dan pola-pola dasar jaringan lainnya berkembang pada ‘axis’ pucuk -akar ini, namun pada tiap tumbuhan terdapat variasi pada proses embriogenesis.
Selanjutnya proses embriogenesis adalah bagian dari metode kultur jaringan untuk memperoleh bibit yang banyak dan bebas virus. Planlet yang dihasilkan pada mulanya beragam. Selanjutnya tanaman akan ditanam di lapangan dan diadakan seleksi sesuai dengan metode pemuliaan berkali-kali sehingga diperoleh tanaman-tanaman yang unggul. Tanaman inilah yang digunakan sebagai sumber eksplan yang bisa diperbanyak dengan berbagai cara dilaboratorium kultur jaringan sehingga didapat bibit dalam jumlah banyak dan seragam. Metode yang digunakan antara lain menginduksi tunas majemuk dan sub kultur. Jika sudah diperoleh sumber eksplan yang unggul dan media yang sesuai maka prosesnya akan berlangsung dalam waktu yang singkat dengan penambahan hormon tumbuh dalam konsentrasi rendah.
Jika menggunakan prinsip-prinsip bioteknologi sebagai dasar pemuliaan tanaman akan diperoleh keuntungan pemangkasan waktu dan menghasilkan bibit-bibit unggul bebas virus dalam jumlah banyak melalui metoda kultur jaringan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar